Ilustrasi.

Banyak kasus gangguan jantung yang merenggut nyawa kaum muda. Biasanya orang-orang sering mengaitkan gangguan jantung dengan usia tua. Padahal, dengan gaya hidup tidak sehat dan tingkat stres tinggi, penyakit itu juga bisa dialami pada usia muda.

Hasil temuan dari studi tim Pathobiological Determinants of Atherosclerosis in Youth (PDAY) pada 2015 bahwa salah satu pemicu utamanya adalah stres. Gangguan itu rawan menghampiri pria usia 15–34 tahun. Dan tidak sedikit yang meninggal tiba-tiba karena penyakit tersebut.

Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh Harvard Health Publications bahwa dari 2.876 responden laki-laki, 75 persen mengalami gangguan jantung. ’’Sebagian besar merupakan korban kekerasan, kecelakaan, atau pernah melakukan percobaan bunuh diri,’’ papar tim tersebut.

Di lansir dari laman Jawa Pos, bahwa para pengidap jantung dengan latar psikologis kurang baik cenderung memelihara pola hidup kurang baik. ’’Mereka umumnya mengalami penyumbatan pembuluh darah karena lemak, bahkan sejak usia 15 tahun,’’ tulisnya.

Berdasar statistik Heart Foundation (Amerika Serikat) bahwa perempuan pun juga memiliki peluang menderita gangguan jantung yang tinggi. Karena terdapat sekitar 435 ribu perempuan yang mengalami serangan jantung per tahun. Sebanyak 25 persen berusia produktif atau kurang dari 50 tahun. Penyebabnya hampir sama: pola hidup kurang sehat dan stres tinggi.

Menurut ahli jantung sekaligus profesor di Herbert Wertheim College of Medicine, Florida International University, Arthur Agatston MD menjelaskan, kebanyakan kasus gangguan jantung pada kaum muda terbilang lambat ditangani. Bukan karena pasien enggan melapor. ’’Pasien sering menganggap sepele gejala yang muncul. Padahal, frekuensinya sudah lebih dari sekali dan membentuk pattern,’’ ujarnya.

Agatston menjelaskan, bahwa meski gejalanya terdengar sepele akan tetapi keterangan dari pasien sangat membantu dalam hal diagnosis. ’’Sebab, keterangan seperti demam, nyeri yang dirasakan, maupun gejala lain yang dirasakan menentukan terapi yang akan diberikan’’.

Jadi makin cepat ditangani, makin besar pula peluang pasien terhindari dari operasi coronary artery bypass grafting atau CABG. Menurut dr Dyana Sarvasti SpKJ, tindakan itu baru diberikan sebagai opsi terakhir. ’’Pertimbangannya, sumbatan aliran darah pasien sudah sangat parah. Dengan catatan, sudah tidak bisa ditangani dengan terapi atau pemasangan ring atau stent,’’ tuturnya.

Selain itu Dokter Dyana Sarvasti SpKJ yang berpraktik di Surabaya itu menyarankan agar pasien gangguan jantung wajib menerapkan pola hidup sehat. Selain pola makan yang bergizi imbang, latihan fisik ringan perlu dilakukan. ’’Olahraga berfungsi menjaga kebugaran sehingga tubuh lebih fit. Gangguan jantung bukan alasan untuk tidak olahraga,’’ tegas Dyana. Namun, porsi dan jenisnya perlu dikonsultasikan dengan dokter.

Sumber : www.jawapos.com