Raj Panjabi, dokter yang juga pendiri Last Mile Health merekrut dan melatih pekerja farmasi, dan berharap dapat mendirikan Akademi Farmasi masa depan. Sumber Gambar : CNN Indonesia.

Upaya Raj Panjabi yang baru saja menerima penghargaan bergengsi di bidang kesehatan, TED Prize pada Selasa (25/4) dalam membuka akses perawatan kesehatan bagi semua orang dan melatih anak muda sebagai tenaga kesehatan dianggap sebagai sebuah inovasi yang visioner.

Kembali ke tanah kelahirannya, Panjabi terbang ke AS karena perang sipil di negaranya Liberia. Sekembalinya ia ke tanah kelahirannya, Raj Panjabi mendapati masyarakat di pedesaannya putus asa dalam mendapatkan layanan kesehatan.

Kemudia keadaan itu mendorong dokter berpengalaman ini mendirikan Last Mile Health di Liberia. Ia merekrut, melatih dan memberi peralatan untuk sejumlah orang yang nantinya menjadi tenaga kesehatan atau farmasi di klinik setempat.

Panjabi menjabarkan akan kiprah organisasinya itu yang terkenal dengan ‘gagasan yang patut disebarluaskan.’

“Sudah bukan rahasia lagi kalau sakit itu universal bisa terjadi pada siapa saja, tapi akses terhadap perawatan tidak,” ungkap Panjabi.

Selanjutnya ia memulai upaya Last Mile Health dari uang pribadinya, yang ia dapatkan sebagai hadiah pernikahan. Upaya itu di antaranya menyediakan layanan kesehatan bagi ribuan orang, dan mendapat dukungan dari kementerian kesehatan Liberia.

Dan sewaktu terjadi krisis Ebola, organisasi Panjabi mendukung pemerintah Liberia dengan melatih sekitar 1,300 perawat untuk pencegahan infeksi dan kontrol di klinik.

Anna Verghese, direktur TED Prize mengutarakan, “Sebagai warga dunia, kita hidup di momen yang kacau, Namun Raj memahami hal ini lebih dari siapapun akan penyakit yang tak mengenal batasan ataupun warga negara seseorang”.

Memang Panjabi memiliki impian suatu saat dirinya dapat membangun akademi kesehatan global yang merekrut ‘pasukan tenaga farmasi di seluruh dunia.

Nantinya mereka yang berasal dari lulusan sekolah menengah pertama atau atas akan diberi pelatihan, obat-obatan, dan dukungan akan perlengkapan kesehatan untuk tetangga di sekitarnya.

Namun tantangannya adalah kita tak dapat melakukan itu tanpa dukungan teknologi. Belakangan ini banyak orang yang khawatir dengan teknologi saat ini, sementara dalam hal ini teknologi mestinya dapat membantu menciptakan lapangan kerja.

Pendirian akademi akan diawali di Liberia, di mana Last Mile Health telah beroperasi selama kurang lebih satu dekade, dengan harapan dapat meluas ke berbagai negara lain di dunia.

Ponsel, peralatan kesehatan yang terjangkau, dan pendidikan via online menjadi komponen dalam merealisasikan gagasannya itu.

Panjabi memang sangat tertarik untuk melihat revolusi antara pendidikan digital dan kesehatan digital.

Selain itu isi akademi juga akan bekerja sama dengan pemerintah dalam melatih sejumlah relawan yang mendapat akreditasi yang kemudian berguna buat karier mereka di masa depan. Akademi juga berkolaborasi dengan pengusaha dalam hal inovasi, seperti energi solar untuk medis, di area yang sulit atau pedalaman.

Maka bagi Raj Panjabi inilah saatnya mentransformasi dunia kesehatan ke seluruh dunia.

Sumber : www.cnnindonesia.com