Sejak tahun 2016 telah terjadi 5.093 kasus kecelakaan kerja yang menimpa peserta BPJS Ketenagakerjaan. 82 persen di antaranya pria dan 50 persen di antaranya terjadi di lingkungan kerja.

Kecelakaan kerja tersebut terjadi di luar tempat kerja, yakni kecelakaan lalu lintas saat pekerja menuju atau pulang dari lokasi kerja. Dengan kondisi ini menunjukkan bahwa perlunya perhatian lebih pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Disela acara diskusi risiko kecelakaan kerja, Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Krishna Syarif mengatakan bahwa hal itu menunjukkan perubahan, dari kecelakaan lalu lintas menuju dan pulang kerja menjadi kecelakaan di tempat kerja.

Tingginya risiko kerja di lokasi kerja itu tercatat sepanjang 2016 di Jakarta terjadi 2.565 (50%) kasus kecelakaan kerja di lokasi kerja, sedangkan kecelakaan lalu lintas sebanyak 2.099 (41,21%) dan 429 (8,42%) kasus terjadi di luar lokasi kerja.

Dikarenakan prihatin karna hal ini, BPJS Ketennagakerjaan menggalakkan program Jaminan Kecelakaan Kerja Return to Work (JKK-RTW) demi memastikan pekerja untuk bekerja kembali setelah kecelakaan kerja yang mengakibatkan kecacatan atau disabilitas.

Dan tercatat sejak 2016, terdapat 1.096 perusahaan peserta BPJS Ketenagakerjaan mendukung program tersebut. Para pekerjanya secara otomatis mendapatkan perlindungan JKK-RTW jika sesuatu yang tidak diinginkan menimpa pekerja yang sampai mengakibatkan cacat.

Pada kegiatan sosialisasi program tersebut di RS MMC, Krishna Syarif mengapresiasi pengusaha yang telah mendukung program JKK-RTW.

Ia berharap tetap memprioritaskan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk meminimalkan angka kecelakaan kerja.

“Program JKK-RTW ini bertujuan membantu pekerja yang mengalami kecelakaan kerja untuk bisa kembali bekerja dengan kondisi kecacatan atau keterbatasan fisik yang diderita dengan mendapatkan keterampilan baru,” ujar Krishna.

Bagi para pekerja yang mengalami kecelakaan dengan program pendampingan sejak saat pengobatan di rumah sakit, pemulihan pasca pengobatan dan perawatan, hingga pelatihan kerja untuk mendapatkan keterampilan yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

Pihak Kepala Kantor Wilayah DKI Jakarta Endro Sucahyono mengatakan bahwa sudah menggandeng 71 rumah sakit trauma center, 95 klinik/fasilitas kesehatan, dan tujuh pusat pelatihan untuk memudahkan para pekerja mendapatkan pelayanan terbaik.

Sumber : industri.bisnis.com